50% HP di Dunia Gunakan OS Usang, Rentan Jadi Korban Phising

Ancaman Keamanan Siber yang Mengintai Perangkat Ponsel
Laporan terbaru dari perusahaan keamanan seluler global Zimperium menunjukkan bahwa lebih dari 50% perangkat smartphone di seluruh dunia berisiko tinggi terkena serangan siber karena masih menggunakan sistem operasi yang sudah usang. Kondisi ini menciptakan lingkungan digital yang rentan, bahkan aplikasi yang telah menerapkan langkah-langkah keamanan bisa saja disusupi oleh ancaman siber.
Zimperium memberikan peringatan keras mengenai teknik mobile phishing atau “mishing” yang kini menjadi ancaman utama bagi pengguna Android dan iOS. Menurut analisis mereka, malware modern kini dirancang secara khusus untuk mencuri kredensial, informasi keuangan, serta data sensitif lainnya.
Jenis-Jenis Serangan yang Teridentifikasi
Berdasarkan data yang dikumpulkan, mishing tercatat sebagai ancaman paling utama, baik untuk pengguna Android maupun iOS. Berbagai jenis serangan yang teridentifikasi antara lain:
- Trojan perbankan
- Spyware
- Backdoor
- Pencuri data
Selain itu, para pelaku kejahatan siber juga mulai memanfaatkan aplikasi palsu dan teknik persistensi tersembunyi untuk menyusup ke dalam perangkat korporasi maupun pribadi. Hal ini semakin mengkhawatirkan karena kemampuan malware modern untuk melewati pertahanan keamanan tradisional.
“Ancaman saat ini sering kali mampu menghindari deteksi berbasis tanda tangan (signature-based defenses) yang sederhana dengan menggunakan teknik penghindaran tingkat lanjut dan pengiriman muatan dinamis,” tulis laporan Zimperium.
Perbedaan Ancaman pada Sistem Operasi Berbeda
Zimperium juga menyoroti perbedaan jenis serangan yang sering terjadi antara dua sistem operasi utama, yaitu Android dan iOS. Pada platform Android, ancaman terbesar kedua berasal dari aplikasi yang diunduh dari luar toko resmi. Sebaliknya, pada perangkat iOS, ancaman jaringan menduduki peringkat kedua sebagai risiko paling umum.
Pada Desember 2025, situasi ini memaksa Google untuk mengeluarkan peringatan terkait serangan siber yang mulai mengeksploitasi celah pada sistem Android. Dua kerentanan utama, yaitu CVE-2025-48633 dan CVE-2025-48572, dilaporkan telah dimanfaatkan dalam beberapa kasus serangan.
Kerentanan pada Sistem Android
CVE-2025-48633 merupakan celah pengungkapan informasi pada Android Framework yang memungkinkan peretas mengakses data terlarang. Sementara itu, CVE-2025-48572 adalah kerentanan peningkatan tinggi yang dapat memberikan kendali sistem lebih dalam kepada aplikasi berbahaya.
Google telah merilis perbaikan untuk celah-celah tersebut, namun hanya tersedia untuk pengguna Android 13, 14, 15, dan 16. Bagi miliaran pengguna yang masih menggunakan versi di bawahnya, perbaikan keamanan tersebut dipastikan tidak akan pernah tiba. Hal ini meningkatkan risiko keamanan bagi pengguna yang tidak segera memperbarui sistem operasi mereka.
Solusi dan Rekomendasi
Untuk mengurangi risiko serangan siber, pengguna perlu memperhatikan pembaruan sistem operasi dan menjaga kebiasaan penggunaan aplikasi yang aman. Selain itu, pengguna juga dianjurkan untuk tidak menginstal aplikasi dari sumber yang tidak terpercaya.
Perusahaan seperti Zimperium juga terus melakukan pemantauan dan riset untuk mengidentifikasi ancaman baru dan memberikan solusi keamanan yang efektif. Dengan kesadaran yang tinggi dan langkah-langkah pencegahan yang tepat, pengguna dapat melindungi perangkat dan data mereka dari ancaman siber yang semakin canggih.









