Pada siang hari di sebuah bangunan yang terletak di kawasan Pondok Indah, Jakarta, suhu sejuk dari pendingin ruangan menyambut hari Selasa (20/1/2026). Di dalam bangunan tersebut, sebuah rumah telah berubah menjadi kantor. Terdapat ruang kerja, kolam renang, serta aktivitas karyawan dari PT Todak Nusantara Group.
Pada kesempatan itu, Pemimpin Redaksi LidahTekno.co.id, Andi Muhyiddin, mengunjungi Presiden Direktur PT Todak Nusantara Group, Shinta Witoyo Dhanuwardono. Tujuan Andi adalah untuk memperoleh pandangan dan pengalaman Shinta, seorang pendiri Bubu.com dan Nusantara Ventures, tentang dunia digital yang berkembang pesat.
Perbincangan antara Andi dan Shinta berlangsung dengan suasana yang santai dan dinamis. Beberapa saat, topik membahas teknologi dan kecerdasan buatan dengan nada tajam. Namun, pada momen lain, percakapan beralih ke hal-hal ringan seputar kehidupan sehari-hari.
Di tengah obrolan santai tersebut, Andi bertanya, sektor apa yang akan pertama kali mengalami keruntuhan jika internet mati total? Shinta tidak ragu menjawab. Menurutnya, sektor bisnis akan menjadi yang pertama terkena dampak. Ketergantungan sistem bisnis terhadap jaringan digital membuat gangguan internet berskala global berpotensi melumpuhkan aktivitas ekonomi dalam waktu singkat.
Shinta menilai bahwa konektivitas internet kini menjadi tulang punggung operasional bisnis modern. Jaringan komputer, sistem pembayaran, logistik, hingga komunikasi perusahaan saling terhubung dalam satu ekosistem digital yang saling bergantung. Ketika koneksi terputus total, rantai tersebut kehilangan kendali sekaligus arah.
“Kalau bisnis sih akan hancur. Bisnis, ya. Hancur pasti. Karena semuanya terkoneksi dengan internet dan komputer,” ujar Shinta.
Baginya, internet bukan lagi sekadar medium komunikasi. Ia telah menjadi infrastruktur utama yang menopang cara kerja perusahaan lintas sektor. Mulai dari usaha rintisan hingga korporasi besar, hampir seluruh proses bisnis kini dirancang berbasis sistem daring.
Namun, Shinta melihat situasi berbeda ketika berbicara tentang sisi kemanusiaan. Menurut dia, manusia masih memiliki ruang bertahan di luar teknologi, selama nilai-nilai non-digital tetap dijaga.
“Kalau humanity, kalau kita masih punya sisi spiritual, we’re still around. Cuma kalau bisnis sih akan sulit,” tutur perempuan kelahiran 18 Januari 1970 itu.
Sejak mendirikan Bubu pada 1996, ia menyaksikan transformasi internet dari alat bantu menjadi fondasi ekonomi digital. Perubahan ini membawa efisiensi luar biasa, sekaligus menciptakan ketergantungan struktural. Pada awal 2000-an, Shinta menutup lebih dari lima perusahaan rintisan ketika gelombang dot-com belum menemukan momentumnya.
Peristiwa itu meninggalkan pelajaran penting yakni teknologi selalu datang bersama risiko, terutama ketika kesiapan ekosistem belum matang. Bagi Shinta, ketergantungan total pada internet juga menuntut kesadaran manusia untuk tetap memegang kendali. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus diposisikan sebagai alat yang dioperasikan manusia, bukan pengendali kehidupan.
Pandangan tersebut relevan di tengah ancaman gangguan siber global maupun potensi kegagalan sistem digital massal. Ketika jaringan lumpuh, manusia dihadapkan pada pertanyaan mendasar tentang daya tahan sistem ekonomi modern.
Shinta menilai kesiapan menghadapi skenario ekstrem tidak hanya soal teknologi cadangan, tetapi juga pola pikir. Dunia usaha perlu memahami batas internet sebagai alat, bukan sandaran tunggal.
Ketika internet menjadi pusat hampir seluruh aktivitas bisnis, risiko kejatuhan juga terpusat di sana. Bagi pegiat digital Tanah Air itu, kesadaran ini penting agar manusia tetap menyiapkan penopang lain di luar teknologi demi keberlanjutan hidup.

ChatGPT Akan Tampilkan Iklan, Termasuk untuk Pengguna Berlangganan
Tak Ingin Semua Orang Melihat Story Kamu? Ini Cara Membuat Snapgram di Instagram Lebih Privat
Ini Daftar DNS Tercepat Untuk Akses Video yang Diblokir
Konten sederhana, dana mengalir dari FB Pro dan TikTok
FB Pro atau TikTok? Platform Terbaik untuk Cari Uang
Starlink Gen2 Diresmikan, Era Ponsel Tanpa Menara BTS Semakin Mendekat
Apa Itu Grok AI? Dianggap Banyak Digunakan untuk Konten Asusila
Grok AI Disalahgunakan untuk Manipulasi Foto Asusila, Polri Ingatkan Ancaman Hukuman