Perbedaan Mendasar antara Mobil Listrik dan Mobil Bensin
Beralih dari mobil bermesin bensin (ICE) ke mobil listrik memang menawarkan pengalaman baru yang lebih modern dan senyap. Namun, perbedaan karakteristik di antara keduanya bisa membuat sebagian pengemudi kaget, terutama bagi yang belum terbiasa dengan sistem pengendalian khas kendaraan listrik.
Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh insiden di Klaten, Jawa Tengah, di mana sebuah mobil listrik MG menabrak dinding hotel. Meski penyebab pastinya masih diselidiki, banyak yang menduga pengemudi panik atau salah menginjak pedal karena belum terbiasa dengan respons mobil listrik yang sangat instan. Kasus seperti ini menjadi pengingat penting bahwa mobil listrik, meski terlihat sederhana untuk dikemudikan, memiliki perilaku yang berbeda dibandingkan mobil konvensional. Dari cara akselerasi hingga sistem pengereman, semuanya terasa unik. Jika pengemudi tidak memahami karakter mobil listrik, kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
1. Akselerasi Spontan dan Tenaga Langsung
Salah satu hal yang paling mengejutkan bagi pengemudi mobil bensin adalah akselerasi mobil listrik yang begitu instan. Motor listrik menghasilkan torsi maksimum seketika, tanpa perlu menunggu putaran mesin naik seperti pada mesin pembakaran. Akibatnya, sedikit tekanan pada pedal gas bisa membuat mobil langsung melesat.
Bagi pengemudi yang terbiasa dengan respons bertahap pada mobil ICE, karakter ini bisa membuat mereka kaget atau bahkan panik, terutama saat manuver di area sempit seperti parkiran hotel, sebagaimana insiden di Klaten. Dalam situasi tertentu, refleks salah menginjak pedal gas justru memperparah keadaan karena mobil langsung meluncur tanpa jeda.
2. Sistem Transmisi dan Rem Regeneratif

Mobil listrik tidak memiliki transmisi konvensional. Umumnya hanya ada satu gigi maju dan satu gigi mundur. Hal ini membuat pengemudi baru kadang bingung dengan cara mobil bergerak, terutama karena sistemnya lebih sensitif terhadap tekanan pedal. Selain itu, mobil listrik juga dilengkapi regenerative braking, yaitu sistem pengereman yang otomatis memperlambat mobil ketika pengemudi melepas pedal gas.
Efek ini bisa terasa seperti “rem otomatis”, membuat mobil melambat tanpa menekan pedal rem. Bagi yang tidak terbiasa, sensasi ini terasa aneh dan kadang membuat pengemudi salah memperkirakan jarak pengereman. Sebaliknya, jika sistem regen tidak aktif, mobil listrik bisa terasa meluncur lebih jauh dari perkiraan.
3. Suara Mesin yang Senyap Bikin Lengah

Keheningan mobil listrik juga bisa menjadi sumber kejutan tersendiri. Tidak adanya suara mesin membuat pengemudi sulit menilai kecepatan hanya dengan pendengaran. Pada mobil ICE, suara mesin menjadi “petunjuk alami” kapan harus menambah atau mengurangi kecepatan, sedangkan pada mobil listrik, semua terasa sunyi.
Ketika pengemudi kehilangan orientasi ini, mereka bisa salah menilai seberapa cepat mobil bergerak — terutama di area parkir atau jalan padat. Hal kecil seperti ini bisa menyebabkan kesalahan refleks yang berujung pada tabrakan.
Pentingnya Adaptasi dan Edukasi
Karena itu, adaptasi menjadi kunci utama bagi siapa pun yang baru pertama kali mengemudikan mobil listrik. Produsen juga diimbau untuk memberikan edukasi menyeluruh kepada pembeli baru, termasuk simulasi mengemudi dan pemahaman fitur keselamatan. Dengan begitu, transisi menuju era kendaraan listrik bisa berlangsung aman dan tanpa insiden yang tak diinginkan.
Wuling Hadirkan Mobil Listrik Sebagai Hadiah di Festival Musik

Jangan Salah Pilih! Perbedaan Charger Murah dan Asli untuk Motor Listrik
Honda Vario 2026 resmi dirilis, ini detail cicilan dan pajak tahunan yang wajib diketahui
Mobil Matic Boros Bahan Bakar? Ini Trik Hemat BBM saat Berkendara
BYD Sealion 2026 Diluncurkan, SUV Listrik Premium Mulai Rp620 Juta di Indonesia
Honda Vario 125 2026: Lebih Hemat, Gaya, dan Terjangkau
Ban GT Radial Savero Komodo MT Plus 265/70 R17: Pilihan Ideal untuk Pajero, Fortuner, dan Triton
Exeed ES7 GT: Mobil Listrik Pertama dengan Jarak Tempuh 1.700 km
Kinerja mesin menurun, apakah selalu karena busi?