Perubahan Konstelasi Satelit Starlink dan Dampaknya pada Skenario Geopolitik
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, isu tentang konstelasi satelit kembali menjadi perhatian utama. Salah satu perusahaan teknologi antariksa terkemuka, SpaceX, dilaporkan melakukan penyesuaian signifikan dalam pengaturan jaringan satelit Starlink-nya.
SpaceX dikabarkan menurunkan sekitar 4.400 satelit Starlink dari ketinggian 550 kilometer ke 480 kilometer pada awal tahun 2026. Langkah ini diduga berkaitan dengan interaksi atau potensi gangguan dari satelit milik Cina. Perubahan ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi satelit tidak hanya berfokus pada inovasi teknis, tetapi juga melibatkan aspek strategis yang lebih luas.
Apa Itu Konstelasi Satelit?
Konstelasi satelit merujuk pada sekelompok satelit buatan yang bekerja sama sebagai satu sistem terintegrasi. Mereka dirancang untuk memberikan cakupan global atau hampir permanen di Bumi, sehingga setidaknya satu satelit selalu terlihat dari lokasi mana pun. Dengan demikian, layanan seperti navigasi, komunikasi, dan pemantauan dapat diberikan secara lebih andal dibanding menggunakan satelit tunggal.
Komunikasi antar-satelit dan stasiun bumi global mendukung operasinya. Contoh konstelasi satelit yang terkenal adalah GPS (Global Positioning System), Iridium, Globalstar, Galileo, dan GLONASS. Di Indonesia sendiri, BRIN sedang mengembangkan konstelasi satelit sendiri untuk tujuan pemantauan Bumi.
Perbedaan Antara LEO, MEO, dan GEO
Konstelasi satelit dapat ditempatkan di berbagai jenis orbit, termasuk Low Earth Orbit (LEO), Medium Earth Orbit (MEO), dan Geostationary Earth Orbit (GEO). Berikut adalah perbedaan utama masing-masing:
LEO (Low Earth Orbit)
LEO adalah orbit satelit yang paling dekat dengan Bumi, dengan ketinggian sekitar 500 hingga 2.000 kilometer. Karena jaraknya dekat, sinyal dari satelit LEO memiliki latensi yang rendah sehingga komunikasi terasa lebih cepat. Namun, karena kecepatannya tinggi, satelit di orbit ini mengelilingi Bumi dalam waktu sekitar 90 hingga 120 menit. Untuk menjangkau seluruh wilayah Bumi, dibutuhkan banyak satelit, bahkan bisa mencapai ratusan hingga ribuan unit.

MEO (Medium Earth Orbit)
MEO berada di ketinggian menengah, yaitu sekitar 5.000 hingga 20.000 kilometer dari permukaan Bumi. Latensi pada orbit ini berada di tingkat sedang, tidak secepat LEO namun lebih baik dibanding GEO. Satelit MEO memiliki periode orbit yang lebih lambat, sekitar 12 jam untuk satu kali putaran. Jumlah satelit yang dibutuhkan juga tidak sebanyak LEO, biasanya hanya puluhan satelit untuk cakupan luas.
GEO (Geostationary Earth Orbit)
GEO merupakan orbit yang paling jauh, berada pada ketinggian sekitar 35.786 kilometer di atas Bumi. Karena jaraknya jauh, latensi sinyal cukup tinggi. Namun keunggulannya, satelit GEO bergerak mengikuti rotasi Bumi sehingga posisinya terlihat tetap di satu titik. Periode orbitnya sama dengan waktu rotasi Bumi, yaitu 24 jam. Untuk mencakup seluruh wilayah Bumi, orbit GEO hanya membutuhkan sedikit satelit, bahkan tiga satelit saja sudah cukup untuk cakupan global.

Penggunaan untuk GPS
Sistem GPS menggunakan satelit MEO untuk menyediakan sinyal navigasi yang akurat secara global melalui konstelasi sekitar 24-30 satelit di ketinggian 20.000 km. Cara kerjanya adalah dengan memancarkan sinyal berisi data waktu presisi dan posisi orbitnya ke penerima di Bumi, seperti smartphone atau GPS mobil. Penerima kemudian menghitung jarak (pseudorange) ke minimal 4 satelit dengan triangulasi, memungkinkan penentuan posisi 3D (lintang, bujur, elevasi) dan waktu UTC akurat hingga meter.

Keunggulan MEO terletak pada keseimbangan antara latensi rendah (100-150 ms) dan cakupan luas, sehingga setidaknya 4 satelit selalu terlihat dari mana saja di Bumi. Periode orbit sekitar 12 jam juga mengurangi handover antar satelit dibanding LEO, cocok untuk navigasi stabil seperti kendaraan otonom atau penerbangan.

Komdigi Minta Harga Internet Lebih Murah, ATSI: Layanan Seluler Sudah Terjangkau
IndiHome Gamer: Ngegame Stabil dengan Paket Mulai Rp290 Ribu
XL Smart (EXCL) Perkenalkan XL Ultra 5G+ di Ratusan Kota dan Kabupaten Indonesia
Harga Internet 2026: Kompetisi Rakyat, MyRepublic, IndiHome, dan XLSATU
Waspadai! Suara Palsu di Balik Panggilan Sunyi, Penjahat Gunakan AI
Internet tiba-tiba melambat? Ini cara memantau jaringan
Nomor HP Anda Kini Harus Verifikasi Wajah, Ini Keuntungannya!
Jika internet mati, sektor ini yang pertama akan runtuh