Kekurangan RAM Picu Kerugian Industri Game

Dampak Krisis RAM pada Industri Game

Krisis memori akses acak (RAM) secara global telah berdampak signifikan pada industri game. RAM menjadi komponen penting bagi pengusaha di sektor ini, terutama sebagai ruang penyimpanan sementara dan untuk data aset. Perusahaan-perusahaan besar seperti Valve Corporation, yang merupakan pengembang video game asal Amerika Serikat, juga mengalami tantangan akibat kelangkaan RAM ini.

Valve mengakui bahwa keterbatasan pasokan RAM memengaruhi rencana pembuatan perangkat keras mereka. Model Steam Deck LCD 256 GB dan dua varian lain dengan kapasitas 512 GB dan 1 TB telah habis terjual. Stok Steam Deck OLED saat ini juga sudah habis karena kekurangan memori dan penyimpanan. Konsol game PC portabel ini kehabisan stok di Amerika Serikat (AS) dan beberapa bagian dunia lainnya selama beberapa hari. Akibatnya, Valve menunda pengiriman Steam Machine, Steam Frame, dan Steam Controller yang awalnya dijadwalkan pada awal 2026.

Perubahan Harga dan Rencana Peluncuran

Valve menyatakan bahwa mereka perlu bekerja keras untuk menetapkan harga dan tanggal peluncuran yang konkret. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan seberapa cepat keadaan di sekitar kedua hal tersebut dapat berubah. Situs web Valve juga mencatat bahwa perusahaan tersebut tidak lagi memproduksi Steam Deck LCD 256 GB. Perangkat ini menggunakan RAM LPDDR5 yang terintegrasi langsung di motherboard dan dibagi untuk CPU serta GPU.

Krisis RAM ini dipicu oleh lonjakan permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI) dan pusat data. Saat ini, produsen RAM global lebih memprioritaskan produksi memori untuk kebutuhan AI dan pusat data, karena memiliki margin keuntungan yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan pasokan RAM untuk konsumen secara langsung, terutama di industri gim, menjadi terdampak. Seperti konsol genggam yang kini stoknya mulai terbatas.

Dampak pada Perusahaan Lain

Selain Valve, Sony juga menjadi salah satu perusahaan yang terdampak akibat langkanya ketersediaan RAM. Permintaan RAM untuk industri AI mengguncang pasar konsol genggam. Berdasarkan laporan Bloomberg, Sony kini tengah mempertimbangkan untuk menunda perilisan PlayStation 6 atau PS6 hingga 2028 atau 2029. Padahal, PS5 sudah dirilis pada 2020 atau tujuh tahun setelah Sony meluncurkan PS4.

Seharusnya pada 2027, Sony bisa meluncurkan PS6 dengan jeda yang sama yaitu tujuh tahun. Jika ditunda hingga 2028 atau 2029, maka Sony membutuhkan waktu hingga delapan atau sembilan tahun untuk merilis PS6. Kondisi ini akan merugikan sebab Sony kemungkinan akan dihadapkan kepada kondisi tidak adanya permintaan besar dari konsumen untuk melakukan peningkatan dari PS5 ke PS6 dalam waktu dekat. Sebab saat ini, PS5 Pro belum tertinggal zaman.

Perubahan Harga di Nintendo

Hal serupa terjadi di Nintendo dengan sistem generasi terbarunya yaitu Switch 2. Akibat langkanya RAM, Nintendo akan mematok harga konsol tersebut US$ 150 atau Rp 2,5 juta (kurs Rp 16.844 per US$) tahun ini. Harga ini lebih mahal dari Switch sebelumnya. Nintendo telah menghindari kenaikan harga seperti PlayStation dan Xbox. Namun krisis RAM secara global memaksa Nintendo menaikan harganya.

Kesimpulan

Dampak krisis RAM secara global terasa di berbagai sektor industri, termasuk di bidang game. Perusahaan-perusahaan besar seperti Valve, Sony, dan Nintendo harus menghadapi tantangan dalam memenuhi permintaan pasar akibat keterbatasan pasokan RAM. Hal ini memaksa mereka untuk menunda peluncuran produk baru dan menyesuaikan harga. Dengan situasi ini, industri game mungkin akan mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Baca Juga

Back to top button

Adblock Terdeteksi

LidahTekno.com didukung oleh iklan Google Adsense untuk menyediakan konten bagi Anda.Mohon pertimbangkan untuk menonaktifkan AdBlocker atau menambahkan kami ke dalam whitelist Anda agar kami dapat terus memberikan informasi dan tips teknologi terbaik.Terima kasih atas dukungan Anda!