Mengapa QRIS Tak Bisa Digunakan di iPhone?

Pengenalan QRIS Berbasis NFC di Indonesia
Bank Indonesia (BI) telah meluncurkan layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) berbasis Near Field Communication (NFC) sejak pertengahan Maret 2025. Layanan ini bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah transaksi pembayaran digital di berbagai sektor, seperti transportasi, hotel, dan restoran. Namun, pengguna iPhone masih harus menunggu karena fitur tersebut hingga kini hanya tersedia di perangkat berbasis sistem operasi Android.
Menurut Deputi Gubernur BI dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, pengguna iPhone diminta untuk bersabar mengingat Apple belum membuka akses fitur NFC untuk kebutuhan pembayaran selain Apple Pay. Hal ini menjadi tantangan bagi pengguna iPhone dalam mengakses layanan QRIS Tap.
Namun, pihak Apple Indonesia maupun kantor pusat Apple menyatakan bahwa mereka sedang mendalami kemungkinan untuk membuka fitur NFC lebih lanjut. Menurut Filianingsih, langkah serupa sudah dilakukan oleh Apple di Eropa, sehingga harapan besar ditempatkan pada upaya ini.
Pertumbuhan Penggunaan QRIS Tap
Sejak peluncuran QRIS Tap, pertumbuhan penggunaannya tercatat cukup pesat. Tidak hanya di sektor transportasi, tetapi juga di merchant hotel dan restoran. Bahkan, sektor hospitality mulai menerapkan layanan ini untuk mempermudah transaksi.
Pada Januari 2026, jumlah transaksi yang diproses melalui QRIS Tap mencapai lebih dari 475 ribu transaksi dengan pertumbuhan sekitar 7,9% secara bulanan. Nilai transaksi pada periode tersebut meningkat 6,44% secara bulanan menjadi Rp 4,6 miliar.
Rata-rata transaksi menggunakan QRIS Tap di sektor transportasi berkisar antara Rp 5.000 per transaksi, sementara di sektor restoran rata-ratanya mencapai Rp 70 ribu per transaksi.
Pertumbuhan Pembayaran Digital
Pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia terus meningkat. BI mencatat bahwa QRIS mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibandingkan metode pembayaran digital lainnya, yaitu sebesar 131,47% secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal ini didorong oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant di berbagai daerah.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kinerja positif ini didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant serta ekosistem ekonomi keuangan digital yang semakin luas.
Secara keseluruhan, volume transaksi pembayaran digital pada Januari 2026 mencapai 4,79 miliar transaksi atau tumbuh 39,65% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh semakin luasnya akseptasi pembayaran digital di berbagai sektor.
Volume transaksi melalui aplikasi mobile banking tercatat tumbuh 10,00% (yoy), sedangkan transaksi internet banking meningkat 23,25% (yoy).
Kinerja Infrastruktur Sistem Pembayaran
Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 455 juta transaksi atau tumbuh 34,41% (yoy), dengan nilai transaksi sebesar Rp1.176 triliun pada Januari 2026.
Sementara itu, transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,86 juta transaksi atau tumbuh 7,60% (yoy), dengan nilai mencapai Rp19.555 triliun.
Perry menyampaikan bahwa stabilitas infrastruktur tercermin dari kelancaran dan keandalan penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) serta sistem pembayaran industri sepanjang Januari 2026. Kecukupan pasokan uang dalam jumlah dan kualitas yang memadai juga dinilainya tetap terjaga.
Perkembangan Ekosistem Ekonomi Keuangan Digital
Struktur industri sistem pembayaran dinilai semakin sehat, ditandai dengan penguatan interkoneksi antar pelaku dan perluasan ekosistem Ekonomi Keuangan Digital (EKD). Hal ini menunjukkan bahwa sistem pembayaran digital di Indonesia semakin matang dan siap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan adanya inovasi seperti QRIS berbasis NFC, BI terus berkomitmen untuk memperkuat infrastruktur pembayaran digital yang aman, cepat, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.























