Waspada! Bahaya Mengintai di Balik Karikatur AI



LidahTekno, JAKARTA — Tren pembuatan karikatur dan ilustrasi berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin populer di media sosial. Namun, di balik pesona visual yang menarik, terdapat risiko yang perlu diperhatikan. Perusahaan keamanan siber, Kaspersky, mengingatkan bahwa praktik ini bisa memicu eksposur informasi pribadi dan memungkinkan penyebaran pesan penipuan yang sangat personal.

Dalam membuat karikatur yang sedang viral saat ini, pengguna sering kali membagikan foto pribadi dan meminta sistem AI untuk menciptakan animasi yang menggambarkan kehidupan, profesi, atau aktivitas sehari-hari. Visual tersebut dibuat berdasarkan data yang diketahui oleh AI tentang diri pengguna.

Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, menyatakan bahwa di balik popularitas tren ini, ada potensi pengungkapan informasi pribadi. Hal ini bisa membuka jalan bagi penipuan skala besar yang dipersonalisasi. Menurutnya, tren ini mungkin tampak seperti hiburan biasa, tetapi sebenarnya memberikan informasi kepada pelaku kejahatan siber.

Menurut Adrian, permintaan untuk membuat karikatur berbasis AI bukan sekadar penggunaan filter visual. Agar hasilnya lebih akurat, pengguna cenderung memberikan akses luas terhadap informasi pribadi melalui instruksi seperti “buatkan karikatur tentang saya dan pekerjaan saya berdasarkan semua yang Anda ketahui tentang saya”.

Selain foto referensi, pengguna sering kali menyertakan detail tambahan seperti nama perusahaan, logo, jabatan, lokasi kerja, rutinitas harian, hobi, hingga informasi keluarga. Setiap potongan data ini, jika dikombinasikan, dapat membentuk profil digital yang sangat rinci.

Menurut Adrian, kombinasi gambar, teks, serta konteks kehidupan pribadi dan profesional bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk merancang serangan rekayasa sosial yang lebih presisi. Informasi mengenai tempat kerja, posisi jabatan, maupun anggota keluarga dapat membuat pesan penipuan terlihat lebih meyakinkan dan meningkatkan kemungkinan korban memberikan data sensitif atau bahkan mentransfer dana.

“Setiap kali pengguna di Asia Pasifik memberikan detail tentang diri mereka kepada AI hanya untuk melihat ilustrasi yang cerdas, mereka menyerahkan cetak biru untuk serangan rekayasa sosial yang sempurna,” jelas Adrian.

Risiko ini dinilai semakin relevan di kawasan Asia Pasifik. Tingkat adopsi AI di wilayah ini tergolong tinggi, dengan 78% profesional menggunakan AI setiap pekan, melampaui rata-rata global sebesar 72%. Namun, literasi teknis dasar yang belum merata membuat sebagian pengguna rentan terhadap phishing dan manipulasi berbasis rekayasa sosial.

Di sisi lain, interaksi dengan platform AI tidak berhenti pada hasil gambar akhir. Bergantung pada kebijakan privasi masing-masing layanan, foto asli, instruksi teks, riwayat penggunaan, hingga data teknis seperti alamat IP, jenis perangkat, dan pola interaksi dapat tersimpan dalam sistem. Sebagian data tersebut mungkin digunakan untuk operasional layanan, peningkatan performa, atau pelatihan model AI, sehingga jejak digital pengguna berpotensi tersimpan lebih lama dari perkiraan.

“Di wilayah dengan adopsi AI terdepan namun literasi teknis yang masih tertinggal, potret digital ini menjadi peta berbahaya,” tegas Adrian.

Seiring risiko ini, para ahli Kaspersky merekomendasikan untuk mengadopsi kebersihan digital saat berpartisipasi dalam tren karikatur AI. Untuk mengurangi risiko, hindari memasukkan data yang dapat diidentifikasi dalam kolom isian, seperti nama lengkap, jabatan, perusahaan, kota, alamat, jadwal, atau rutinitas, bahkan jika tampaknya hanya untuk mempersonalisasi gambar.

“Jangan mengunggah foto yang menampilkan logo, kredensial, dokumen, plat nomor kendaraan, layar, fasad bangunan, atau elemen apa pun yang dapat membantu menemukan Anda atau mengaitkan Anda dengan suatu organisasi,” tutur Adrian.

Dia juga mengimbau untuk tidak membagikan informasi atau gambar anak di bawah umur, atau mengungkapkan detail keluarga yang dapat digunakan untuk meniru kontak dekat atau merancang penipuan emosional.

Kemudian, tinjau kebijakan privasi dan izin platform sebelum menggunakannya, terutama mengenai penyimpanan konten dan penggunaan data untuk pelatihan atau peningkatan layanan. Lengkapi kehati-hatian dengan perlindungan digital aktif untuk mengurangi risiko dari tautan berbahaya, unduhan berbahaya, dan teknik phishing terkait dengan tren ini, sekaligus memperkuat keamanan perangkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Baca Juga

Back to top button

Adblock Terdeteksi

LidahTekno.com didukung oleh iklan Google Adsense untuk menyediakan konten bagi Anda. Mohon pertimbangkan untuk menonaktifkan AdBlocker atau menambahkan kami ke dalam whitelist Anda agar kami dapat terus memberikan informasi dan tips teknologi terbaik. Terima kasih atas dukungan Anda!