WIFI Rakyat, HiFi Air, dan Orbit Telkomsel Berebut Pasar Menengah

Persaingan Layanan Internet Nirkabel di Indonesia Memasuki Babak Baru
Persaingan dalam layanan internet nirkabel, khususnya fixed wireless access (FWA), memasuki babak baru dengan munculnya HiFi Air dari PT Indosat Tbk. (ISAT). Layanan ini menawarkan paket berharga Rp100.000 per bulan dengan kuota sebesar 125 GB, yang menjadi tantangan bagi operator lain seperti PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) yang sedang memperkuat layanan Internet Rakyat.
Di sisi lain, WIFI terus membangun kemitraan untuk meningkatkan layanan internet rumah, namun harus menghadapi pesaing lama seperti Orbit dari Telkomsel. Orbit menawarkan paket 125 GB dengan harga Rp179.000, yang lebih mahal dibandingkan HiFi Air dan Internet Rakyat.
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai dinamika ini bisa menjadi awal kompetisi harga di segmen FWA non-fiber. Ia menyatakan bahwa kehadiran HiFi Air 125 GB dengan harga Rp100.000 secara langsung menurunkan ekspektasi pasar di kelas internet rumah nirkabel.
“Jika dibandingkan dengan Internet Rakyat yang menawarkan unlimited di harga sama, serta Telkomsel melalui Orbit yang lebih premium, pasar akan makin sensitif terhadap value for money,” ujar Heru kepada Bisnis, Senin (9/3/2026).
Heru menegaskan bahwa persaingan bukan hanya tentang tarif murah, tetapi juga positioning di antara pemain di kelas menengah dan bawah. Di satu sisi, hadir penawaran harga murah dan kuota besar atau unlimited, sementara di sisi lain ada operator yang fokus pada kualitas jaringan dan stabilitas layanan dengan tarif relatif lebih tinggi.
“Ini bukan hanya soal siapa yang paling murah, tapi bagaimana operator memposisikan diri antara harga, kualitas, dan pengalaman pengguna,” kata dia.
Keberlanjutan Model Tarif FWA Rp100.000 Per Bulan
Terkait keberlanjutan model tarif FWA Rp100.000 per bulan, Heru menilai skema tersebut masih bisa bertahan secara bisnis dengan beberapa catatan. Ia mengingatkan bahwa FWA berbasis 4G/5G tetap berbagi spektrum dengan layanan seluler, sehingga lonjakan trafik berpotensi mengerek biaya per gigabyte yang harus ditanggung operator.
Paket kuota besar atau bahkan unlimited, sambungnya, hampir pasti membawa konsekuensi risiko kongesti jaringan. “Model Rp100.000/bulan bisa berkelanjutan jika operator mengelola kapasitas jaringan secara disiplin dan konsumen mendapat layanan berkualitas, bukan cuma gimmick,” tutur Heru.
Dia memprediksi penerapan fair usage policy (FUP) atau manajemen kecepatan menjadi keniscayaan untuk menjaga kualitas layanan di tengah tekanan tarif murah.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberlanjutan Bisnis FWA Murah
Heru menjelaskan bahwa keberlanjutan bisnis FWA murah sangat bergantung pada beberapa faktor seperti kepadatan pelanggan di suatu wilayah, tingkat utilisasi base transceiver station (BTS), serta karakteristik area layanan. Skema tarif agresif dinilai lebih realistis dijalankan di area yang kapasitas jaringannya masih longgar, dibandingkan kawasan padat trafik di kota-kota besar yang jaringan selulernya sudah mendekati batas optimal.
“Tanpa manajemen kapasitas yang hati-hati, paket murah justru bisa merusak pengalaman pelanggan dan pada akhirnya merugikan operator sendiri,” ujarnya.

Potensi Pasar Internet Rumah Non-Fiber di Indonesia
Di sisi lain, Heru menilai potensi pasar internet rumah non-fiber di Indonesia masih terbuka lebar. Penetrasi jaringan fiber optik hingga kini belum merata di luar kota-kota besar, sementara permintaan konektivitas rumah tangga terus tumbuh untuk kebutuhan kerja jarak jauh, pembelajaran daring, hingga aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“FWA menjadi solusi cepat karena tanpa investasi penarikan kabel yang mahal dan lama,” kata Heru.
Menurut Heru, FWA berpotensi menjadi solusi transisi bahkan semi-struktural untuk mengurangi kesenjangan digital di berbagai daerah selama harga tetap terjangkau dan kualitas layanan stabil. Namun, dalam perspektif jangka panjang, ia tetap melihat jaringan fiber sebagai infrastruktur unggulan dari sisi kapasitas dan stabilitas.
“FWA bisa menjembatani kebutuhan akses internet rumah di wilayah yang belum terlayani fiber, tetapi ke depan penguatan jaringan kabel tetap penting untuk menopang pertumbuhan trafik data yang terus meningkat,” ujarnya.























