Feri Irwandi di UI: Komunikasi Bukan Sekadar Pesan, Melainkan Alat Pencipta Realitas

DEPOK – Pakar konten dan kandidat PhD, Feri Irwandi, memberikan kuliah publik yang memukau di hadapan mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Dalam sesi yang berlangsung santai namun mendalam tersebut, Feri membedah esensi komunikasi yang jauh melampaui sekadar pertukaran informasi, melabelinya sebagai sebuah “superpower” untuk membentuk realitas di pikiran orang lain.

Komunikasi: Alat Rekayasa Realitas

Membuka kuliahnya, Feri menantang definisi konvensional tentang komunikasi. Baginya, komunikasi adalah instrumen utama dalam menciptakan dan mengubah realitas. Ia mencontohkan bagaimana selembar kertas memiliki nilai Rp100.000 hanya karena hal tersebut dikomunikasikan secara efektif dan disepakati secara kolektif.

“Setiap dari kita memiliki dunia dan persepsi sendiri. Skill komunikasi yang baik digunakan untuk mempengaruhi, merekayasa, bahkan memanipulasi realitas yang ada di kepala audiens,” ujar Feri. Ia menekankan bahwa melalui komunikasi, seseorang bisa membangun reputasi, meraih kekayaan, atau justru menghadapi bencana sosial seperti pembatalan (cancel culture).

Memahami Otak yang “Malas”

Feri menjelaskan bahwa kunci utama menjadi komunikator ulung adalah memahami cara kerja otak manusia. Menurutnya, otak manusia sangat luar biasa namun sekaligus “malas”. Otak cenderung mencari jalan pintas atau cara tercepat untuk memproses informasi.

Jika sebuah informasi disampaikan secara membosankan atau tidak relevan, otak audiens akan secara otomatis mengabaikannya. Sebaliknya, ketika komunikator mampu memicu rasa ingin tahu, otak akan bekerja ekstra cepat untuk menyerap data, angka, dan informasi yang kompleks sekalipun dalam waktu singkat.

Mengapa Komunikasi Bisa Gagal?

Dalam diskusi tersebut, muncul pertanyaan mengenai kegagalan komunikasi. Feri menjelaskan bahwa kemampuan komunikasi bisa menjadi “tidak berarti apa-apa” (means nothing) jika berhadapan dengan resistensi tinggi atau bias kognitif dari penerima pesan.

“Sejago apa pun Anda berbicara, jika audiens sudah memiliki antipati atau batasan mental sejak awal, pesan Anda tidak akan tembus,” jelasnya. Sebaliknya, komunikasi menjadi “segalanya” (means everything) ketika tidak ada penghalang atau resistensi, di mana setiap kata dapat mengeskalasi ketertarikan dan kepercayaan audiens.

Telinga Lebih Penting daripada Mulut

Salah satu poin paling krusial yang disampaikan Feri adalah mengenai porsi mendengarkan. Ia menegaskan bahwa organ tubuh paling penting dalam komunikasi bukanlah mulut, melainkan telinga.

Untuk mencapai tujuan komunikasi secara maksimal, seseorang harus mampu melakukan pemetaan (mapping) terhadap audiensnya. Feri menyarankan untuk memberikan porsi mendengar lebih banyak (sekitar 5-10 menit awal pertemuan) guna meruntuhkan tembok resistensi dan memahami apa yang sebenarnya ingin didengar oleh lawan bicara. Dengan mendengar, seorang komunikator bisa menentukan taktik, strategi, dan momentum yang tepat untuk menyampaikan pesannya.

Studi Kasus: Membongkar Mitos dan Kepercayaan

Feri menggunakan contoh menarik mengenai kepercayaan masyarakat terhadap hal mistis (seperti pocong atau santet) untuk menguji teori komunikasinya. Ia menjelaskan bahwa menyerang kepercayaan seseorang secara langsung dengan label “halusinasi” hanya akan memperkuat resistensi mereka.

Strategi yang tepat adalah dengan masuk ke dalam pengalaman mereka, memberikan ruang aman, dan kemudian secara perlahan menyodorkan kerangka berpikir baru (misalnya penjelasan neurologis atau ilmiah). “Manusia akan lebih percaya pada kebenaran jika mereka merasa kesimpulan itu datang dari pemikiran mereka sendiri, bukan dipaksakan oleh orang lain,” tambahnya.

Kesimpulan: Menjadi Komunikator yang Bijak

Sebagai penutup, Feri Irwandi mengingatkan para mahasiswa bahwa menjadi komunikator yang baik berarti menjadi “manipulator” yang bijak dalam arti positif—yakni mereka yang tahu bagaimana menggerakkan orang lain menuju kebenaran tanpa merasa digurui. Di era digital saat ini, kemampuan untuk menjaga orisinalitas sembari memikul tanggung jawab sosial menjadi tantangan utama bagi setiap komunikator.

Kuliah publik ini memberikan perspektif baru bagi mahasiswa komunikasi UI bahwa strategi dan taktik hanyalah alat, namun pemahaman mendalam terhadap psikologi manusia dan empati dalam mendengarkan adalah kunci kemenangan dalam setiap interaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Baca Juga

Back to top button

Adblock Terdeteksi

LidahTekno.com didukung oleh iklan Google Adsense untuk menyediakan konten bagi Anda.Mohon pertimbangkan untuk menonaktifkan AdBlocker atau menambahkan kami ke dalam whitelist Anda agar kami dapat terus memberikan informasi dan tips teknologi terbaik.Terima kasih atas dukungan Anda!