Lidar, Teknologi Canggih yang Justru Mulai Dikubur Sebelum Mendunia

Teknologi Otonom dan Peran LiDAR

Teknologi otonom kini menjadi bagian penting dalam industri otomotif global. Berbagai pabrikan, baik dari Amerika Serikat, Eropa maupun Tiongkok, terus mengembangkan inovasi untuk mempercepat perkembangan mobil tanpa pengemudi. Salah satu teknologi yang sempat menjadi andalan adalah LiDAR (Light Detection and Ranging), yang menggunakan pulsa cahaya laser untuk mengukur jarak dan menciptakan peta tiga dimensi (3D) dengan akurasi tinggi.

Namun, seiring berkembangnya teknologi lain, perangkat ini mulai ditinggalkan oleh beberapa produsen mobil ternama. Tesla dan Xpeng, misalnya, telah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan LiDAR dalam sistem otonom mereka. Bahkan Volvo juga mengambil langkah serupa. Hal ini menunjukkan bahwa tren penggunaan LiDAR mulai berubah.

Pendekatan Tesla dan Xpeng

Elon Musk, CEO Tesla, secara tegas menolak penggunaan LiDAR dalam sistem otonom Tesla. Ia lebih memilih pendekatan yang disebut “Tesla Vision”, yang hanya mengandalkan kamera dan dukungan kecerdasan buatan (AI). Menurut Musk, konsep ini mirip dengan cara manusia mengemudi, yaitu melalui penglihatan mata.

Sementara itu, Xpeng, pabrikan asal Tiongkok, juga memilih untuk tidak menggunakan LiDAR. Mereka lebih fokus pada sistem kamera beresolusi tinggi yang dikenal sebagai Pure Vision. Vice President Xpeng, James Wu, menjelaskan bahwa sistem ini memaksimalkan kamera di sekeliling mobil untuk mendeteksi lingkungan, dipadu dengan AI.

Pure Vision versi terbaru menggunakan empat chip AI Turing dengan kecepatan 3.000 Tera Operation Per Second (TOP). Chip ini mampu memproses gambar real time dengan cepat, sehingga dapat menghasilkan data untuk fungsi sistem otonom yang dikenal sebagai Voice, Language, Action (VLA).

Alasan LiDAR Mulai Kehilangan Minat

Meskipun LiDAR dianggap sebagai teknologi canggih, ada beberapa kelemahan yang membuatnya semakin ditinggalkan. Pertama, biaya produksi LiDAR sangat tinggi, yang berdampak pada harga jual kendaraan. Kedua, perkembangan kamera, terutama sistem kamera stereo modern, telah mampu mengungguli LiDAR dalam banyak kondisi. Ketiga, LiDAR rentan terhadap cuaca buruk seperti hujan lebat atau kabut tebal, yang menyebabkan pancaran laser menurun drastis. Keempat, pasokan LiDAR tergantung pada pemasok tertentu, sehingga rentan terhadap gangguan rantai pasokan.

Penggunaan LiDAR di Indonesia

Di Indonesia, kehadiran mobil yang dilengkapi LiDAR mulai terlihat. Mobil berLiDAR biasanya memiliki ciri khas berupa tonjolan di bagian atapnya. Salah satu contohnya adalah Luxeed R7, yang baru-baru ini terlihat dalam foto. Namun, belum bisa dipastikan apakah mobil ini benar-benar dilengkapi LiDAR.

Zeng Shou, President Director Chery Group Indonesia, mengatakan bahwa pihaknya sedang melakukan pengujian unit Luxeed R7 untuk penyesuaian dengan kondisi jalanan Indonesia. Namun, ia belum bisa memastikan apakah mobil ini akan dibekali LiDAR saat resmi dirilis.

“Saya belum bisa bicara saat ini tentang mobil ini (Luxeed R7), begitupun dengan teknologi yang akan dibawanya,” ujar Zeng. “Untuk pemakaian LiDAR saya harus cek lagi datanya ya,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Baca Juga

Back to top button

Adblock Terdeteksi

LidahTekno.com didukung oleh iklan Google Adsense untuk menyediakan konten bagi Anda.Mohon pertimbangkan untuk menonaktifkan AdBlocker atau menambahkan kami ke dalam whitelist Anda agar kami dapat terus memberikan informasi dan tips teknologi terbaik.Terima kasih atas dukungan Anda!